{"id":25,"date":"2012-09-12T16:45:00","date_gmt":"2012-09-12T16:45:00","guid":{"rendered":"http:\/\/www.sanantempe.com\/2012\/09\/12\/tentang-kota-malang\/"},"modified":"2012-09-12T16:45:00","modified_gmt":"2012-09-12T16:45:00","slug":"tentang-kota-malang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/massdesain.my.id\/sanantempe\/2012\/09\/12\/tentang-kota-malang\/","title":{"rendered":"Tentang Kota Malang"},"content":{"rendered":"<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/--3QlSjITh_g\/UFC7hfmTTlI\/AAAAAAAAAJM\/muEXJlgLlXQ\/s1600\/tugu_balai_kota_malang.jpg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" height=\"240\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/--3QlSjITh_g\/UFC7hfmTTlI\/AAAAAAAAAJM\/muEXJlgLlXQ\/s320\/tugu_balai_kota_malang.jpg\" width=\"320\" \/><\/a><\/div>\n<div style=\"text-align: center;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Kota Malang<\/b>, adalah sebuah <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota\" title=\"Kota\">kota<\/a> di <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Provinsi\" title=\"Provinsi\">Provinsi<\/a> <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jawa_Timur\" title=\"Jawa Timur\">Jawa Timur<\/a>, <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Indonesia\" title=\"Indonesia\">Indonesia<\/a>. Kota ini berada di dataran tinggi yang cukup sejuk, terletak 90 km sebelah selatan <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Surabaya\" title=\"Kota Surabaya\">Kota Surabaya<\/a>, dan wilayahnya dikelilingi oleh <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kabupaten_Malang\" title=\"Kabupaten Malang\">Kabupaten Malang<\/a>. Malang merupakan kota terbesar kedua di <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jawa_Timur\" title=\"Jawa Timur\">Jawa Timur<\/a>, dan dikenal dengan julukan <i>kota pelajar<\/i>.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span>Sejarah<\/span><\/h2>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<div style=\"width: 302px;\">\n<div> Gedung Balaikota Malang dilihat dari <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Alun-alun_bundar_Malang\" title=\"Alun-alun bundar Malang\">Alun-alun bundar<\/a><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Wilayah cekungan Malang telah ada sejak masa <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/w\/index.php?title=Purbakala&amp;action=edit&amp;redlink=1\" title=\"Purbakala (halaman belum tersedia)\">purbakala<\/a> menjadi kawasan pemukiman. Banyaknya <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sungai\" title=\"Sungai\">sungai<\/a> yang mengalir di sekitar tempat ini membuatnya cocok sebagai kawasan  pemukiman. Wilayah Dinoyo dan Tlogomas diketahui merupakan kawasan  pemukiman <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Prasejarah\" title=\"Prasejarah\">prasejarah<\/a>.<sup><a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Malang#cite_note-Dahlia-2\">[3]<\/a><\/sup> Selanjutnya, berbagai <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Prasasti\" title=\"Prasasti\">prasasti<\/a> (misalnya <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/w\/index.php?title=Prasasti_Dinoyo&amp;action=edit&amp;redlink=1\" title=\"Prasasti Dinoyo (halaman belum tersedia)\">Prasasti Dinoyo<\/a>), bangunan percandian dan arca-<a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Arca\" title=\"Arca\">arca<\/a>, bekas-bekas <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pondasi\" title=\"Pondasi\">pondasi<\/a> <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Batu_bata\" title=\"Batu bata\">batu bata<\/a>, bekas saluran <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Drainase\" title=\"Drainase\">drainase<\/a>, serta berbagai <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Gerabah\" title=\"Gerabah\">gerabah<\/a> ditemukan dari periode akhir <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kerajaan_Kanjuruhan\" title=\"Kerajaan Kanjuruhan\">Kerajaan Kanjuruhan<\/a> (abad ke-8 dan ke-9) juga ditemukan di tempat yang berdekatan.<sup><a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Malang#cite_note-Dahlia-2\">[3]<\/a><\/sup><sup><a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Malang#cite_note-3\">[4]<\/a><\/sup><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Nama &#8220;Malang&#8221; sampai saat ini masih diteliti asal-usulnya oleh para  ahli sejarah. Para ahli sejarah masih terus menggali sumber-sumber untuk  memperoleh jawaban yang tepat atas asal-usul nama &#8220;Malang&#8221;. Sampai saat  ini telah diperoleh beberapa hipotesa mengenai asal-usul nama Malang  tersebut. <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/w\/index.php?title=Malangkucecwara&amp;action=edit&amp;redlink=1\" title=\"Malangkucecwara (halaman belum tersedia)\">Malangkucecwara<\/a> yang tertulis di dalam lambang kota itu, menurut salah satu hipotesa  merupakan nama sebuah bangunan suci. Nama bangunan suci itu sendiri  diketemukan dalam dua prasasti <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/w\/index.php?title=Raja_Balitung&amp;action=edit&amp;redlink=1\" title=\"Raja Balitung (halaman belum tersedia)\">Raja Balitung<\/a> dari <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jawa_Tengah\" title=\"Jawa Tengah\">Jawa Tengah<\/a> yakni <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Prasasti_Mantyasih\" title=\"Prasasti Mantyasih\">prasasti Mantyasih<\/a> tahun <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/907\" title=\"907\">907<\/a>, dan prasasti <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/908\" title=\"908\">908<\/a> yakni diketemukan di satu tempat antara Surabaya-Malang. Namun demikian  dimana letak sesungguhnya bangunan suci Malangkucecwara itu, para ahli  sejarah masih belum memperoleh kesepakatan. Satu pihak menduga letak  bangunan suci itu adalah di daerah gunung <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/w\/index.php?title=Buring&amp;action=edit&amp;redlink=1\" title=\"Buring (halaman belum tersedia)\">Buring<\/a>,  satu pegunungan yang membujur di sebelah timur kota Malang dimana  terdapat salah satu puncak gunung yang bernama Malang. Pembuktian atas  kebenaran dugaan ini masih terus dilakukan karena ternyata, disebelah  barat kota Malang juga terdapat sebuah gunung yang bernama Malang. Pihak  yang lain menduga bahwa letak sesungguhnya dari bangunan suci itu  terdapat di daerah <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Tumpang\" title=\"Tumpang\">Tumpang<\/a>, satu tempat di sebelah utara kota Malang. Sampai saat ini di daerah tersebut masih terdapat sebuah desa yang bernama <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/w\/index.php?title=Malangsuka&amp;action=edit&amp;redlink=1\" title=\"Malangsuka (halaman belum tersedia)\">Malangsuka<\/a>,  yang oleh sebagian ahli sejarah, diduga berasal dari kata Malankuca  yang diucapkan terbalik. Pendapat di atas juga dikuatkan oleh banyaknya  bangunan-bangunan purbakala yang berserakan di daerah tersebut, seperti <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Candi_Jago\" title=\"Candi Jago\">Candi Jago<\/a> dan <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Candi_Kidal\" title=\"Candi Kidal\">Candi Kidal<\/a>, yang keduanya merupakan peninggalan zaman <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kerajaan_Singasari\" title=\"Kerajaan Singasari\">Kerajaan Singasari<\/a>.  Dari kedua hipotesa tersebut di atas masih juga belum dapat dipastikan  manakah kiranya yang terdahulu dikenal dengan nama Malang yang berasal  dari nama bangunan suci <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/w\/index.php?title=Malangkucecwara&amp;action=edit&amp;redlink=1\" title=\"Malangkucecwara (halaman belum tersedia)\">Malangkucecwara<\/a> itu. Apakah daerah di sekitar Malang sekarang, ataukah kedua gunung  yang bernama Malang di sekitar daerah itu. Sebuah prasasti tembaga yang  ditemukan akhir tahun <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1974\" title=\"1974\">1974<\/a> di perkebunan Bantaran, <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Wlingi\" title=\"Wlingi\">Wlingi<\/a>,  sebelah barat daya Malang, dalam satu bagiannya tertulis sebagai  berikut&nbsp;: \u201c\u2026\u2026\u2026\u2026 taning sakrid Malang-akalihan wacid lawan macu  pasabhanira dyah Limpa Makanagran I \u2026\u2026\u2026\u201d. Arti dari kalimat tersebut di  atas adalah&nbsp;: \u201c \u2026\u2026.. di sebelah timur tempat berburu sekitar Malang  bersama wacid dan mancu, persawahan Dyah Limpa yaitu \u2026\u2026\u2026\u201d Dari bunyi  prasasti itu ternyata Malang merupakan satu tempat di sebelah timur dari  tempat-tempat yang tersebut dalam prasasti itu. Dari prasasti inilah  diperoleh satu bukti bahwa pemakaian nama Malang telah ada paling tidak  sejak abad <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/w\/index.php?title=12_Masehi&amp;action=edit&amp;redlink=1\" title=\"12 Masehi (halaman belum tersedia)\">12 Masehi<\/a>.  Hipotesa-hipotesa terdahulu, barangkali berbeda dengan satu pendapat  yang menduga bahwa nama Malang berasal dari kata \u201cMembantah\u201d atau  \u201cMenghalang-halangi\u201d (dalam bahasa Jawa berarti Malang). Alkisah Sunan <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Mataram\" title=\"Mataram\">Mataram<\/a> yang ingin meluaskan pengaruhnya ke Jawa Timur telah mencoba untuk  menduduki daerah Malang. Penduduk daerah itu melakukan perlawanan perang  yang hebat. Karena itu Sunan Mataram menganggap bahwa rakyat daerah itu  menghalang-halangi, membantah atau malang atas maksud Sunan Mataram.  Sejak itu pula daerah tersebut bernama Malang. Timbulnya <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kerajaan_Kanjuruhan\" title=\"Kerajaan Kanjuruhan\">Kerajaan Kanjuruhan<\/a> tersebut, oleh para ahli sejarah dipandang sebagai tonggak awal  pertumbuhan pusat pemerintahan yang sampai saat ini, setelah 12 abad  berselang, telah berkembang menjadi Kota Malang. Setelah kerajaan  Kanjuruhan, di masa emas kerajaan <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Singasari\" title=\"Singasari\">Singasari<\/a> (1000 tahun setelah Masehi) di daerah Malang masih ditemukan satu  kerajaan yang makmur, banyak penduduknya serta tanah-tanah pertanian  yang amat subur. Ketika <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Islam\" title=\"Islam\">Islam<\/a> menaklukkan <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kerajaan_Majapahit\" title=\"Kerajaan Majapahit\">Kerajaan Majapahit<\/a> sekitar tahun <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1400\" title=\"1400\">1400<\/a>,  Patih Majapahit melarikan diri ke daerah Malang. Ia kemudian mendirikan  sebuah kerajaan Hindu yang merdeka, yang oleh putranya diperjuangkan  menjadi satu kerajaan yang maju. Pusat kerajaan yang terletak di kota  Malang sampai saat ini masih terlihat sisa-sisa bangunan bentengnya yang  kokoh bernama <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/w\/index.php?title=Kutobedah&amp;action=edit&amp;redlink=1\" title=\"Kutobedah (halaman belum tersedia)\">Kutobedah<\/a> di desa Kutobedah. Adalah Sultan Mataram dari Jawa Tengah yang akhirnya  datang menaklukkan daerah ini pada tahun 1614 setelah mendapat  perlawanan yang tangguh dari penduduk daerah ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya,  Kota Malang modern tumbuh dan berkembang setelah hadirnya administrasi  kolonial <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Hindia_Belanda\" title=\"Hindia Belanda\">Hindia Belanda<\/a>.  Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan  keluarga Belanda. Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang,  misalnya <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/w\/index.php?title=%27%27Ijen_Boullevard%27%27&amp;action=edit&amp;redlink=1\" title=\"''Ijen Boullevard'' (halaman belum tersedia)\">&#8221;Ijen Boullevard&#8221;<\/a> dan kawasan sekitarnya. Pada mulanya hanya dinikmati oleh  keluarga-keluarga Belanda dan Bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk  pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas  yang kurang memadai. Kawasan perumahan itu sekarang menjadi monumen  hidup dan seringkali dikunjungi oleh keturunan keluarga-keluarga Belanda  yang pernah bermukim di sana.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Pada masa penjajahan kolonial <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Hindia_Belanda\" title=\"Hindia Belanda\">Hindia Belanda<\/a>, daerah Malang dijadikan wilayah &#8220;Gemente&#8221; (Kota). Sebelum tahun <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1964\" title=\"1964\">1964<\/a>,  dalam lambang kota Malang terdapat tulisan&nbsp;; \u201cMalang namaku, maju  tujuanku\u201d terjemahan dari \u201cMalang nominor, sursum moveor\u201d. Ketika kota  ini merayakan hari ulang tahunnya yang ke-50 pada tanggal <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1_April\" title=\"1 April\">1 April<\/a> <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1964\" title=\"1964\">1964<\/a>, kalimat-kalimat tersebut berubah menjadi&nbsp;: \u201cMalangkucecwara\u201d. Semboyan baru ini diusulkan oleh almarhum <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/w\/index.php?title=Prof._Dr._R._Ng._Poerbatjaraka&amp;action=edit&amp;redlink=1\" title=\"Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka (halaman belum tersedia)\">Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka<\/a>, karena kata tersebut sangat erat hubungannya dengan asal-usul kota Malang yang pada masa <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ken_Arok\" title=\"Ken Arok\">Ken Arok<\/a> kira-kira 7 abad yang lampau telah menjadi nama dari tempat di sekitar atau dekat candi yang bernama Malangkucecwara.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kota malang mulai tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah  kolonial Belanda, terutama ketika mulai di operasikannya jalur kereta  api pada tahun <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1879\" title=\"1879\">1879<\/a>.  Berbagai kebutuhan masyarakatpun semakin meningkat terutama akan ruang  gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata  guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali.  Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari  fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.<\/div>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Tahun <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1767\" title=\"1767\">1767<\/a> Kompeni Hindia Belanda memasuki Kota<\/li>\n<li>Tahun <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1821\" title=\"1821\">1821<\/a> kedudukan Pemerintah Belanda di pusatkan di sekitar <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kali_Brantas\" title=\"Kali Brantas\">kali Brantas<\/a><\/li>\n<li>Tahun <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1824\" title=\"1824\">1824<\/a> Malang mempunyai Asisten Residen<\/li>\n<li>Tahun <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1882\" title=\"1882\">1882<\/a> rumah-rumah di bagian barat Kota di dirikan dan Kota didirikan alun-alun di bangun.<\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1_April\" title=\"1 April\">1 April<\/a> <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1914\" title=\"1914\">1914<\/a> Malang di tetapkan sebagai Kotapraja<\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/8_Maret\" title=\"8 Maret\">8 Maret<\/a> <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1942\" title=\"1942\">1942<\/a> Malang diduduki Jepang<\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/21_September\" title=\"21 September\">21 September<\/a> <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1945\" title=\"1945\">1945<\/a> Malang masuk Wilayah Republik Indonesia<\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/22_Juli\" title=\"22 Juli\">22 Juli<\/a> <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1947\" title=\"1947\">1947<\/a> Malang diduduki Belanda<\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/2_Maret\" title=\"2 Maret\">2 Maret<\/a> <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1947\" title=\"1947\">1947<\/a> Pemerintah Republik Indonesia kembali memasuki Kota Malang.<\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1_Januari\" title=\"1 Januari\">1 Januari<\/a> <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/2001\" title=\"2001\">2001<\/a>, menjadi Pemerintah Kota Malang.<\/li>\n<\/ul>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"> <span>&nbsp;<\/span><\/h2>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-l74OXmF2hn4\/UFC7prrgwiI\/AAAAAAAAAJU\/hk_qKukfW1I\/s1600\/logo-malang-color.jpg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-l74OXmF2hn4\/UFC7prrgwiI\/AAAAAAAAAJU\/hk_qKukfW1I\/s1600\/logo-malang-color.jpg\" \/><\/a><\/div>\n<h2 style=\"text-align: center;\"><span>&nbsp;<\/span><\/h2>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span>Makna Lambang<\/span><\/h2>\n<div style=\"text-align: justify;\">DPRDGR mengkukuhkan lambang Kotamadya Malang dengan Perda No. 4\/1970. Bunyi semboyan pada lambang adalah &#8220;MALANG KUCECWARA&#8221;<\/div>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Motto &#8220;MALANG KUCECWARA&#8221; berarti Tuhan menghancurkan yang bathil, menegakkan yang benar<\/li>\n<li>Arti Warna&nbsp;:\n<ul>\n<li>Merah Putih, adalah lambang bendera nasional Indonesia<\/li>\n<li>Kuning, berarti keluhuran dan kebesaran<\/li>\n<li>Hijau adalah kesuburan<\/li>\n<li>Biru Muda berarti kesetiaan pada Tuhan, negara dan bangsa<\/li>\n<li>Segilima berbentuk perisai bermakna semangat perjuangan  kepahlawanan, kondisi geografis, pegunungan, serta semangat membangun  untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<div style=\"text-align: justify;\">Semboyan tersebut dipakai sejak hari peringatan 50 tahun berdirinya  KOTAPRAJA MALANG 1964, sebelum itu yang digunakan adalah&nbsp;: &#8220;MALANG  NAMAKU, MAJU TUJUANKU&#8221;, yang merupakan terjemahan dari &#8220;MALANG NOMINOR,  SURSUM MOVEOR&#8221;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Yang disahkan dengan &#8220;Gouvernement besluit dd. 25 April 1938 N. 027&#8221;.  Semboyan baru itu diusulkan oleh Prof.DR. R.Ng.Poerbatjaraka, dan erat  hubungannya dengan asal mula Kota Malang pada zaman Ken Arok.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">sumber : <a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Malang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">wikipedia <\/a><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"mh-excerpt\"><p>Kota Malang, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini berada di dataran tinggi yang cukup sejuk, terletak 90 km sebelah selatan Kota <a class=\"mh-excerpt-more\" href=\"https:\/\/massdesain.my.id\/sanantempe\/2012\/09\/12\/tentang-kota-malang\/\" title=\"Tentang Kota Malang\">[&#8230;]<\/a><\/p>\n<\/div>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-25","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-wisata-malang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/massdesain.my.id\/sanantempe\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/massdesain.my.id\/sanantempe\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/massdesain.my.id\/sanantempe\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/massdesain.my.id\/sanantempe\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/massdesain.my.id\/sanantempe\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/massdesain.my.id\/sanantempe\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/massdesain.my.id\/sanantempe\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/massdesain.my.id\/sanantempe\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/massdesain.my.id\/sanantempe\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}